Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Momen Danzo Terpukul Saat Tobirama Memilih Hiruzen Menjadi Hokage Ketiga

Momen Danzo Terpukul Saat Tobirama Memilih Hiruzen Menjadi Hokage Ketiga

Salah satu momen paling penting dalam sejarah Konohagakure terjadi ketika Tobirama Senju menunjuk Hiruzen Sarutobi sebagai Hokage Ketiga. Keputusan itu bukan hanya menentukan masa depan desa, tetapi juga mengubah hubungan antara Hiruzen dan Danzo Shimura.

Bagi Danzo, peristiwa tersebut menjadi pukulan yang sangat besar. Ia menyadari bahwa dirinya kalah oleh Hiruzen dalam momen yang paling menentukan, sebuah kenyataan yang terus membayangi kehidupannya hingga dewasa.

Situasi Kritis Saat Dikejar Pasukan Kinkaku

Peristiwa ini terjadi pada masa Perang Dunia Shinobi Pertama.

Saat itu, Tobirama Senju memimpin sebuah tim yang beranggotakan beberapa shinobi muda, termasuk Hiruzen Sarutobi dan Danzo Shimura. Dalam perjalanan, mereka dikejar oleh Kinkaku dan Ginkaku beserta pasukan elit mereka.

Menyadari peluang untuk lolos sangat kecil, Tobirama memahami bahwa seseorang harus mengorbankan diri untuk mengulur waktu agar anggota tim lainnya bisa melarikan diri.

Siapa yang Akan Menjadi Umpan?

Dalam situasi genting itu, Tobirama bertanya siapa yang bersedia menjadi pengalih perhatian.

Semua anggota tim terdiam.

Di dalam hatinya, Danzo ingin menjadi orang yang maju lebih dulu. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya memiliki keberanian dan layak menjadi penerus Tobirama.

Namun, keraguan membuatnya terlambat mengambil keputusan.

Sebaliknya, Hiruzen Sarutobi menunjukkan kesiapan untuk mengorbankan dirinya demi menyelamatkan rekan-rekannya.

Keberanian Hiruzen muncul tanpa ragu, dan itulah yang menarik perhatian Tobirama.

Tobirama Menunjuk Hiruzen Sebagai Hokage Ketiga

Melihat sikap Hiruzen, Tobirama Senju langsung mengambil keputusan besar.

Di tengah situasi perang, ia menunjuk Hiruzen sebagai Hokage Ketiga.

Setelah itu, Tobirama memutuskan bahwa dirinya sendiri yang akan menjadi umpan untuk menghadapi musuh, sementara Hiruzen dan anggota tim lainnya harus melanjutkan perjalanan dan melindungi masa depan Konoha.

Keputusan ini menunjukkan bahwa bagi Tobirama, seorang Hokage bukan dipilih karena kekuatan semata, tetapi juga karena keberanian mengambil tanggung jawab saat keadaan paling sulit.

Danzo Mengakui Kekalahannya

Momen tersebut menjadi salah satu penyesalan terbesar dalam hidup Danzo.

Ia menyadari bahwa dirinya kalah bukan karena kurang berbakat, melainkan karena tidak mampu mengalahkan rasa ragu pada saat yang paling menentukan.

Danzo mengakui bahwa Hiruzen bergerak lebih cepat dan lebih berani darinya.

Perasaan itulah yang kemudian berkembang menjadi rasa iri dan ambisi untuk membuktikan bahwa dirinya juga pantas memimpin Konoha.

Awal Rivalitas Hiruzen dan Danzo

Setelah Hiruzen resmi menjadi Hokage Ketiga, jalan hidup kedua sahabat ini mulai berbeda.

Hiruzen memimpin Konoha dengan pendekatan yang mengutamakan perdamaian, kasih sayang, dan semangat "Kehendak Api" (Will of Fire).

Sementara itu, Danzo percaya bahwa desa hanya bisa bertahan melalui tindakan tegas, operasi rahasia, dan pengorbanan di balik layar.

Perbedaan cara pandang tersebut melahirkan konflik yang terus berlangsung selama puluhan tahun, termasuk pembentukan organisasi Root, yang dipimpin Danzo secara diam-diam.

Pelajaran dari Keputusan Tobirama

Keputusan Tobirama memilih Hiruzen bukanlah keputusan yang dibuat secara acak.

Ia melihat kualitas kepemimpinan yang muncul secara alami dalam diri Hiruzen, terutama keberanian untuk mengutamakan keselamatan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.

Sebaliknya, keraguan Danzo pada momen itu menjadi bukti bahwa ia belum siap memikul tanggung jawab sebagai Hokage.

Ironisnya, penyesalan tersebut justru membentuk kepribadian Danzo di masa depan dan menjadi salah satu alasan di balik berbagai keputusan kontroversial yang ia ambil demi melindungi Konoha.

Kesimpulan

Momen ketika Tobirama Senju menunjuk Hiruzen Sarutobi sebagai Hokage Ketiga menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Konoha. Di tengah ancaman pasukan Kinkaku dan Ginkaku, Hiruzen menunjukkan keberanian untuk mengorbankan dirinya, sementara Danzo terlambat mengambil keputusan karena diliputi keraguan.

Bagi Danzo, peristiwa itu menjadi luka batin yang tidak pernah benar-benar sembuh. Rasa penyesalan karena gagal membuktikan dirinya terus menghantuinya hingga dewasa dan menjadi awal dari rivalitas panjang dengan Hiruzen Sarutobi. Kisah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati sering kali dikenali bukan saat keadaan nyaman, melainkan ketika berani mengambil tanggung jawab di saat yang paling sulit.